Sejarah Desa Gadungan Puncu Kab. Kediri

GadunganPuncu | Rabu, 20 Agustus 2014 - 09:52:32 WIB | dibaca: 2845 pembaca

SEJARAH SEBELUM TAHUN 1763 M.

Desa ini disebut  “ Negoro Marumi “, yang dipimpin oleh seorang yang bernama: Soetowidjojo, dan mempunyai pujangga seorang yang bernama: Ki Djoko Pekik.

 

 

 

Soetowidjojo mempunyai putra sebanyak 3 ( tiga ) orang masing – masing yakni

Nama       : Djoko Begadung
Nama       : Dewi Soetiyem ( Melati Putih )
Nama       : Clontang Koesumo

 

          Untuk melestarikan Negoro Marumi, Soetowidjojo pergi bertapa di gunung Songgoriti. Negoro Marumi diserahkan kepada putranya yang bernama Djoko Begadung. Konon pada suatu hari datanglah dua orang kakak beradik dari negoro Bali,  bernama Kebo Lelono dan Kebo Kusumo yang kedatangan mereka mempunyai tujuan melamar Dewi Soetiyem.

          Kedua tamu ini bersikap sombong, maka oleh Djoko Begadung di jamu makan dengan lauk dari Daging Kerbau yang dicvampur dengan santan dari gadung. Sekesai makan maka Kebo Lelono dan Kebo Kusumo mabuk (mendem), serta lamarannya ditolak oleh Djoko Begadung.

          Mendengan lamarannya ditolak, maka terjadilah peperangan antara kedua belah pihak. Kedua orang dari negoro Bali tersebut kalah, kemudian melarikan diri ke timur dan akhirnya istirahat di suatu tempat dekat Sendang ( Belik ).

          Sendang ini adalah ciptaan dari Dewi Soetiyem. Kebo Lelono dan Kebo Kusumo karena haus langsung minum air di sendang tersebut ternyata airnya berbau busuk. Kebo Lelono kembali bersabda sebagai berikut “ Tempat ini saya namakan Larangan “

          Pengejaran oleh Djoko Begadung dan kawan – kawannya terus dilaksanakan, kemudian kedua orang tersebut terus lari, sampi di Kasreman pengejaran dihentikan.

          Djoko Begadung melanjutkan perjalanannya mencari pertapaan orang tuanya digunung Songgoriti. Sebelum bertemu orang tuanya Djoko Begadung mandi disebuah Sendang. Dengan suka ria bahkan sampai berlebihan, sambil ciblon – ciblon dan berteriak – teriak.

Dari pertapaan Soetowidjojo mendengarsuara tersebut, seraya bersabda sebagai berikut “ Yen ing Atase Manungso adus ora koyo mangkono, kuwi sipate kewan”. Maka wujud Djoko Begadung berubah menjadi seekor Harimau, dan meraung – raung memanggil orang tuanya yang sedang bertapa. Kemudian orang tuanya datang, terjadilah pertemuan antara Soetowidjojo dan Djoko Begadungyang berwujud Harimau.

          Soetowidjojo mengeluh dengan sabdanya sehingga anaknya menjadi seekor Harimau, maka Soetowidjojo bersabda lagi “ Tempat ini saya namakan Sebaluh “.

          Akhirnya Djoko Begadung diajak pulang oleh orang tuanya ke Negoro Marumi. Dalam perjalanan Djoko Begadung dan Soetowidjojo dihadang oleh sekawanan Harimau liar, makaterjadilah perkelahian,Harimau jilmaan Djoko Begadung mengasah kukunya di phon Jabon, pohon Jabon tersebut sampai rusak, Soetowidjojo seraya bersabda “ Hutan ini saya namakan Jabon Garut “.

          Dalam perjalanan Djoko Begadung dan Soetowidojobertemu lagi dengan Kebo Lelono dan Kebo Kusumo, maka terjadilah peperangan yang kedua kalinya dengan Djoko Begadung yang sudah berwujud seekor Harimau.

          Pusaka milik Kebo Lelono yang bernama “ Bondan “ dapat direbut oleh Djoko Begadung, dan selanjutnya untuk membunuh Kebo Lelono dan Kebo Kusumo.

          Pusaka Bondan milik Kebo Lelono, oleh Djoko Begadung disembunyikan di tanah di bawah Pohon Beringin.

          Selang beberapa bulan kemudian datanglah istri Kebo Lelono yang bernama Dewi Ambarsari beserta kawan – kawannya dari Negoro Bali, dengan tujuan mencari suaminya yang melamarDewi Soetiyem di Negoro Marumi. Kedatangan Dewi Ambarsari disambut oleh Soetowidjojo, karena kesaktian Soetowidjojo yang telah mengetahui sebelumnya maksud dan tujuannya Dewi Ambarsari, sedangkan Dewi Ambarsari belum pernah mengetahuiNegoro Marumi maka ia bertanya kepada Soetowidjojo sebagai berikut:

Pertanyaan Dewi Ambarsari: Apkah ini Negoro Marumi ?

Jawaban Soetowidjojo           : Bukan, ini Negoro Gadungan.

Pertanyaan Dewi Ambarsari: Apakah ada orang yang bernama Dewi Soetiyem ?

Jawaban Soetowidjojo           : Tidak ada, di Negoro Gadungan yang ada  nama   Melati Putih.

            Tipu muslihat ini dikandung maksud untuk menyelamatkan Negoro Marumi dari peperangan dengan orang Negoro Bali, maka Dewi Ambarsari dan kawan – kawannya meninggalkan Negoro Marumi atau disebutkan Negoro Gadungan.

          Setelah Negoro Marumi disebut Negoro Gadungan aman, putranya yang bernama Clontang Kesumo di suruh pergi ke Lodoyo, sedangkan Dewi Soetiyem disuruh menjaga Djoko Begadung yang sudah menjadi seekor Harimau. Soetowidjojo akan pergi ke Negoro Kediridansebelum pergi Soetowidjojo berpesan kepada Djoko Begadung jangan pergi kalau saya belum datang, Djoko Begadung diam saja tidak menjawab, duduk dibawah Pohon Beringin.

SEJARAH SESUDAH TAHUN 1763.M.

Di NegoroGadungandatang dua orang Pemuda masing – masing:

1. Nama  : Adi Soewarno

2. Nama  : Mangku Kusumo

Konon kedua pemuda ini adalah putra dari seorang wedono dari Jawa Tengah. Adi Sewarno setelah di Negoro Gadungan berganti nama menjadi nama “ Kedud “ sedang Mangku Kusumo berganti nama “ Trunoredjo “, pertama kali pimpinan Negoro Gadungan dipimpin oleh Kedud, tetapi tidak bisa membawa kebahagiaan Rakyatnya, kemudian pimpinan diserahkan kepada adiknya yang bernama “ Trunoredjo “.

        Pada saat pimpinan dipegang oleh Trunoredjo, rakyat Gadungan merasakan lebih bahagia aman dan tentram. Lebih – lebih setelah diketemukan pusaka “ Bondan “ yang dulu oleh Djoko Begadung disembunyikan, ditancapkan di tanah di bawah pohon beringin, pada saat Pusaka Bondan diambil dari dalam tanah, maka keluarlah Mata Air, yang kemudian mata air tersebut oleh Trunoredjo di beri nma “ Sumber Bedji “.

        Sampai saat ini masyarakat Desa Gadungan masih menghormati Leluhurnya, setahun sekali mengadakan bersih Desa, mengadakan selamatan dan berziarah ke pemakaman keluarga  “ Kedud “, yang dikenal sampai sekarang Punden Bah Kud (Bakud). Selesai dari Punden Bakud di lanjutkan ke punden Sumber Bedji. Pada saat selamatan di Punden Sumber Bedji, di keluarkanlah Pusaka Bondan. Mengadakan Langen Bekso  ( Tayuban ), pusaka Bondan ditaruh diatas Bokor, dikelilingi orang – orang yang hadir, dengan gending Landrangan, dan selanjutnya Pusaka Bondan di pakai oleh Kepala Desa untuk Bekso pertama kali.   Kondisi Pusaka Bondan saat ini masih baik dan sementara ini masih di simpan sendiri. Tompo Suhartono bin Djojo Masiran.